Artikel ditinjau oleh:
Dr Steven Soo • Prostodontis

Meskipun menggigit kuku merupakan hal yang lazim, dampaknya tidak hanya merusak kuku dan jari. Banyak orang tidak menyadari dampak negatifnya terhadap gigi dan mulut. Oleh karena itu, memahami potensi masalah sangatlah penting, terutama jika Anda mencoba menghentikan kebiasaan tersebut.
Mengapa menggigit kuku bisa terjadi?

Menggigit kuku, yang secara klinis disebut onikofagia, diklasifikasikan sebagai gangguan kontrol impuls. Ini adalah jenis perilaku berulang yang berfokus pada tubuh di mana individu mulai menggigit kuku dan kulit di sekitar kuku dan kutikula karena berbagai alasan. Biasanya, kebiasaan ini dimulai sejak masa kanak-kanak dan menjadi lebih sering terjadi pada masa remaja.
Stres dan kecemasan
Mencari bantuan sementara dari stres dan kecemasan mungkin merupakan kebiasaan gugup.
Kecenderungan linglung
Bagi sebagian orang, menggigit kuku adalah mekanisme menenangkan diri agar tetap waspada dan terjaga. Penelitian juga menunjukkan bahwa menggigit kuku bisa disebabkan oleh rasa bosan, karena orang melakukannya untuk menyibukkan diri.
Masalah emosional atau psikologis
Dalam beberapa kasus, hal ini juga dapat dikaitkan dengan kondisi mental tertentu, seperti:
- Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- Major Depressive Disorder (MDD)
- Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD)
- Gangguan pemberontak oposisi
- Gangguan kecemasan perpisahan
- Sindrom Tourette
Dampak menggigit kuku
Dokter gigi Anda mungkin telah memperingatkan agar tidak mengunyah kacang keras dan es batu untuk mencegah gigi terkelupas. Nasihat yang sama juga berlaku bagi orang yang suka menggigit kuku. Berikut dampak gigi yang mungkin terjadi akibat menggigit kuku:
- Gigi terkelupas atau retak: Gesekan akibat gigi bergesekan dengan kuku dapat mengikis enamel secara perlahan atau menyebabkan gigi retak atau terkelupas.
- Radang gusi: Kebiasaan ini dapat memindahkan kotoran dan kuman dari jari ke mulut sehingga berpotensi menyebabkan penyakit gusi.
- Bruxisme: Hal ini dapat meningkatkan risiko mengembangkan kebiasaan menggemeretakkan gigi kronis, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan mulut tambahan, sakit kepala, dan nyeri rahang..
- Maloklusi: Ini tidak hanya membahayakan gigi; hal ini juga dapat menyebabkan pergeserannya, sehingga mengakibatkan maloklusi (masalah gigitan) dan celah.
- Mahkota atau veneer yang copot: Hal ini juga dapat menyebabkan mahkota atau pelapis untuk dicabut atau terkelupas.
- Gangguan Sendi Temporomandibular (TMD): Menggigit kuku tergolong kebiasaan parafungsional, disebut juga hiperaktif otot, termasuk menggemeretakkan gigi. Menggeretakkan gigi merupakan salah satu penyebab TMD.
- Keracunan makanan: Karena kotoran mudah terperangkap di bawah kuku, kebiasaan ini terkadang bisa menyebabkan keracunan makanan.
Tips berhenti menggigit kuku
Berikut beberapa strategi mengatasi kebiasaan menggigit kuku:
- Potong kuku Anda: Kuku yang pendek membuat lebih sulit untuk digigit. Menjaga kuku tetap pendek mengurangi godaan untuk menggigit dan berfungsi sebagai pengingat untuk berhenti.
- Temukan pemicu Anda: Setelah Anda mengetahui pemicu menggigit kuku, Anda dapat mengendalikan kebiasaan tersebut dengan lebih efektif, dan pada akhirnya menghentikannya sepenuhnya.
- Oleskan cat kuku atau manikur: Jika Anda telah menginvestasikan waktu dan uang untuk mempercantik kuku, Anda mungkin ingin mempertahankan penampilannya.
- Bicaralah dengan dokter medis (psikolog) jika Anda menggigit kuku karena cemas.
Apakah kebiasaan itu perlu dihentikan?
Memang diperlukan upaya ekstra, tetapi hal ini akan membantu Anda melindungi kuku dan menjaga kesehatan gigi.
Kunjungan rutin ke dokter gigi juga penting karena spesialis gigi Anda akan membantu memeriksa kerusakan apa pun yang terkait dengan kebiasaan Anda.
Jika Anda memiliki kebiasaan ini, berbicara kepada spesialis gigi kami untuk mengetahui pilihan perawatan apa yang tersedia untuk Anda.
Butuh bantuan gigi?
Kirimkan pesan kepada kami melalui ikon WhatsApp di pojok kanan bawah, menanyakan atau hubungi kami di (65) 6733 7883.





